Terkadang
kita buta tak pandai memilih arah yang mana untuk melangkah Terkadang kita
bimbang sulit memutuskan tempat untuk bertanya Tapi terkadang kita selalu lupa
akan tanda bahwa pada dasarnya, persimpangan mana pun yang akan dilalui pasti
mempunyai nama kita memilh untuk tersesat dari pada menyadari kenyataan yang
ada...
Kuharap kita tak pernah
bertemu lagi."
"Ku harap begitu"
Percakapan singkat itu cukup untuk mengakhiri semuanya. Mengakhiri kisah
yang pernah terjadi di antara kita. Meski ada pertarungan hebat yang
terjadi dengan batin masing-masing. Seharusnya kalimat ini sudah kita
ucapkan sejak awal. Seharusnya kita mengakhiri cerita ini. Sebab, apapun
yang terjadi, ini hanya akan menjadi sia-sia. Kisah kita tanpa masa
depan. Kita terlahir dengan dua sisi yang berbeda. Dan itu tidak akan
pernah menjadi sama.
Aku melihat mu berbalik. Menatap punggung mu, yang terlihat kelelahan.
Aku menangis terisak, namun tak bisa berbuat apa-apa.
Jangan pergi.
Betapa ingin ku ucapkan kata itu pada mu. Aku ingin kau tinggal lebih
lama lagi, disini-bersama ku. Namun lidah terlalu kelu untuk berucap.
Jika aku boleh berharap, aku ingin dapat menghentikan waktu. Aku tak
ingin melihat matahari. Matahari baru, berarti hari yang baru. Hari yang
baru, berarti akhir dari segalanya. Aku tak butuh hari esok. Sebab jika
esok datang, artinya kau tidak akan ada lagi bersama mu.
Kenapa akhirnya harus seperti ini? Kenapa nasib tidak membiarkan mu
tinggal lebih lama? Dan kenapa harus kau orangnya?
Aku menghirup udara yang terasa pekat dan menyesakkan ketika kau
meninggalkan ku. Seolah udara itu menyusut, terbawa bersama mu. Aku
tahu, di waktu-waktu ke depan tidak akan ada diri mu lagi di sini. Aku
tidak akan melihat mu di sini, bercengkrama dengan sinisme yang kau
tunjukkan. Aku benci itu, tapi tanpa sadar menikmatinya.
Kau tahu, hati ku kini telah ku berikan pada seseorang dan kini orang
itu akan membawanya pergi. Kau. Kau lah orangnya. Aku tak tahu kenapa
harus kau? Tapi aku memang sangat menginginkannya.
Kita saling mengenal dengan cara dan akhir yang tak terduga. Mungkin kau
benar, seharusnya aku juga bersyukur, bisa bertemu dengan seseorang
seperti mu. Dan jatuh cinta. Dan merasakan patah hati. Dan tegar
menghadapinya. Sesuatu yang mengingatkan bahwa kini kita telah beranjak
dewasa. Akhirnya aku tahu rasa tersiksa, ketika patah hati dan
menikmatinya. Jadi, akhirnya memang harus begini. Tidak ada sesal.
Maka dari itu kita disini. Menikmati saat-saat terakhir bersama. Hanya
kita berdua. Lalu membiarkannya tertinggal di masa lalu. Dunia kecil
kita, dimana tak ada orang yang tahu.
I just want missed you...
Copy the BEST Traders and Make Money :
http://bit.ly/fxzulu
I Just Want Missed You
"Kuharap kita tak pernah bertemu lagi."
"Ku harap begitu"
Percakapan singkat itu cukup untuk mengakhiri semuanya. Mengakhiri kisah
yang pernah terjadi di antara kita. Meski ada pertarungan hebat yang
terjadi dengan batin masing-masing. Seharusnya kalimat ini sudah kita
ucapkan sejak awal. Seharusnya kita mengakhiri cerita ini. Sebab, apapun
yang terjadi, ini hanya akan menjadi sia-sia. Kisah kita tanpa masa
depan. Kita terlahir dengan dua sisi yang berbeda. Dan itu tidak akan
pernah menjadi sama.
Aku melihat mu berbalik. Menatap punggung mu, yang terlihat kelelahan.
Aku menangis terisak, namun tak bisa berbuat apa-apa.
Jangan pergi.
Betapa ingin ku ucapkan kata itu pada mu. Aku ingin kau tinggal lebih
lama lagi, disini-bersama ku. Namun lidah terlalu kelu untuk berucap.
Jika aku boleh berharap, aku ingin dapat menghentikan waktu. Aku tak
ingin melihat matahari. Matahari baru, berarti hari yang baru. Hari yang
baru, berarti akhir dari segalanya. Aku tak butuh hari esok. Sebab jika
esok datang, artinya kau tidak akan ada lagi bersama mu.
Kenapa akhirnya harus seperti ini? Kenapa nasib tidak membiarkan mu
tinggal lebih lama? Dan kenapa harus kau orangnya?
Aku menghirup udara yang terasa pekat dan menyesakkan ketika kau
meninggalkan ku. Seolah udara itu menyusut, terbawa bersama mu. Aku
tahu, di waktu-waktu ke depan tidak akan ada diri mu lagi di sini. Aku
tidak akan melihat mu di sini, bercengkrama dengan sinisme yang kau
tunjukkan. Aku benci itu, tapi tanpa sadar menikmatinya.
Kau tahu, hati ku kini telah ku berikan pada seseorang dan kini orang
itu akan membawanya pergi. Kau. Kau lah orangnya. Aku tak tahu kenapa
harus kau? Tapi aku memang sangat menginginkannya.
Kita saling mengenal dengan cara dan akhir yang tak terduga. Mungkin kau
benar, seharusnya aku juga bersyukur, bisa bertemu dengan seseorang
seperti mu. Dan jatuh cinta. Dan merasakan patah hati. Dan tegar
menghadapinya. Sesuatu yang mengingatkan bahwa kini kita telah beranjak
dewasa. Akhirnya aku tahu rasa tersiksa, ketika patah hati dan
menikmatinya. Jadi, akhirnya memang harus begini. Tidak ada sesal.
Maka dari itu kita disini. Menikmati saat-saat terakhir bersama. Hanya
kita berdua. Lalu membiarkannya tertinggal di masa lalu. Dunia kecil
kita, dimana tak ada orang yang tahu.
I just want missed you...
Copy the BEST Traders and Make Money :
http://bit.ly/fxzulu
I Just Want Missed You
"Kuharap kita tak pernah bertemu lagi."
"Ku harap begitu"
Percakapan singkat itu cukup untuk mengakhiri semuanya. Mengakhiri kisah
yang pernah terjadi di antara kita. Meski ada pertarungan hebat yang
terjadi dengan batin masing-masing. Seharusnya kalimat ini sudah kita
ucapkan sejak awal. Seharusnya kita mengakhiri cerita ini. Sebab, apapun
yang terjadi, ini hanya akan menjadi sia-sia. Kisah kita tanpa masa
depan. Kita terlahir dengan dua sisi yang berbeda. Dan itu tidak akan
pernah menjadi sama.
Aku melihat mu berbalik. Menatap punggung mu, yang terlihat kelelahan.
Aku menangis terisak, namun tak bisa berbuat apa-apa.
Jangan pergi.
Betapa ingin ku ucapkan kata itu pada mu. Aku ingin kau tinggal lebih
lama lagi, disini-bersama ku. Namun lidah terlalu kelu untuk berucap.
Jika aku boleh berharap, aku ingin dapat menghentikan waktu. Aku tak
ingin melihat matahari. Matahari baru, berarti hari yang baru. Hari yang
baru, berarti akhir dari segalanya. Aku tak butuh hari esok. Sebab jika
esok datang, artinya kau tidak akan ada lagi bersama mu.
Kenapa akhirnya harus seperti ini? Kenapa nasib tidak membiarkan mu
tinggal lebih lama? Dan kenapa harus kau orangnya?
Aku menghirup udara yang terasa pekat dan menyesakkan ketika kau
meninggalkan ku. Seolah udara itu menyusut, terbawa bersama mu. Aku
tahu, di waktu-waktu ke depan tidak akan ada diri mu lagi di sini. Aku
tidak akan melihat mu di sini, bercengkrama dengan sinisme yang kau
tunjukkan. Aku benci itu, tapi tanpa sadar menikmatinya.
Kau tahu, hati ku kini telah ku berikan pada seseorang dan kini orang
itu akan membawanya pergi. Kau. Kau lah orangnya. Aku tak tahu kenapa
harus kau? Tapi aku memang sangat menginginkannya.
Kita saling mengenal dengan cara dan akhir yang tak terduga. Mungkin kau
benar, seharusnya aku juga bersyukur, bisa bertemu dengan seseorang
seperti mu. Dan jatuh cinta. Dan merasakan patah hati. Dan tegar
menghadapinya. Sesuatu yang mengingatkan bahwa kini kita telah beranjak
dewasa. Akhirnya aku tahu rasa tersiksa, ketika patah hati dan
menikmatinya. Jadi, akhirnya memang harus begini. Tidak ada sesal.
Maka dari itu kita disini. Menikmati saat-saat terakhir bersama. Hanya
kita berdua. Lalu membiarkannya tertinggal di masa lalu. Dunia kecil
kita, dimana tak ada orang yang tahu.
I just want missed you...
Copy the BEST Traders and Make Money :
http://bit.ly/fxzulu